Lombokforum.com, SEMARANG — Ribuan warga memadati Balai Desa Kemetul, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah (Jateng), Sabtu (18/7/2026), untuk menyaksikan kemeriahan pawai Jolenan. Tradisi sedekah hasil bumi yang digelar setiap tahun itu tak hanya menjadi ajang pelestarian budaya, tetapi juga ruang menyuarakan persoalan yang dihadapi petani.
Belasan kontingen dari seluruh RT di Desa Kemetul menampilkan beragam kreasi bertema ketahanan pangan. Gunungan hasil bumi diarak keliling desa bersama replika petani, kupu-kupu, ikan, ayam, hingga penampilan teatrikal Dewi Sri sebagai simbol kemakmuran dan kesuburan.
Di balik kemeriahan pawai, para peserta menyisipkan kritik terhadap kebijakan yang dinilai belum sepenuhnya berpihak kepada petani. Mereka mengangkat isu pupuk bersubsidi, harga gabah, hingga kesejahteraan petani. Warga juga diajak memahami bahwa sumber pangan tidak hanya bergantung pada padi, tetapi juga berbagai komoditas lainnya.
Kepala Desa Kemetul, Agus Sudibyo, mengatakan Jolenan berasal dari istilah ojo kelalen atau jangan sampai lupa. Tradisi tersebut menjadi pengingat agar masyarakat senantiasa bersyukur atas hasil panen yang diperoleh.
“Jolenan merupakan tradisi turun-temurun sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas panen kali ini yang melimpah. Rangkaian acaranya dimulai sejak Jumat dengan doa bersama, dilanjutkan pawai hari ini, dan malam nanti ditutup dengan pagelaran wayang kulit,” ujar Agus.
Dia menjelaskan, Jolenan biasanya digelar setelah panen musim kemarau atau panen kretek. Tahun ini sebanyak 19 RT ikut ambil bagian dengan menampilkan gunungan hasil bumi dan berbagai kreasi yang dikerjakan secara gotong royong.
Agus menyebut, hasil bumi yang diarak kemudian diperebutkan warga karena dipercaya membawa berkah setelah didoakan bersama. Lebih dari itu, tradisi tersebut menjadi sarana mempererat kebersamaan sekaligus melestarikan budaya desa.
“Tradisi ini harus terus dijaga karena bukan hanya melestarikan budaya, tetapi juga memperkuat kekompakan warga. Seluruh gunungan dan replika dibuat bersama-sama sehingga kreativitas masyarakat juga terus berkembang,” katanya.
Salah seorang warga, Arif, mengaku selalu menantikan Jolenan setiap tahun. Bahkan, anggota keluarganya yang tinggal di luar kota sengaja pulang untuk menyaksikan pawai tersebut.
“Setiap tahun kami selalu datang karena acaranya meriah. Keluarga yang di luar kota juga menyempatkan pulang untuk ikut menyaksikan Jolenan,” ujar Arif warga Semarang.

Leave a Reply