Lombokforum.com, SEMARANG – Beton, aspal, dan deretan bangunan menjadi wajah yang paling lekat dengan Kota Semarang sebagai Ibu Kota Jawa Tengah (Jateng). Namun, sekitar setengah jam dari pusat kota, lanskap itu berubah menjadi tebing batu, gemericik air, dan rimbunnya pepohonan di Curug Gribik, Kecamatan Gunungpati.
Espos mengawali perjalanan menuju air terjun Curug Gribik lewat Gang Ki Ageng Gribig No. 7, Kelurahan Sekaran, Kecamatan Gunungpati, Sabtu (1/8/2026). Dari gang depan gerbang utama kampus Universitas Negeri Semarang (Unnes) itu, perjalanan dilanjutkan sekitar lima menit dengan mengendari sepeda motor menuju area parkir, tanpa tiket masuk.
Setelah itu, pengunjung harus berjalan sekitar 200 meter menuruni jalan setapak menuju dasar lembah tempat Curug Gribik berada. Selama perjalanan, kanan-kiri dikelilingi pepohonan yang menaungi jalur, sementara suara air yang semakin jelas terdengar menjadi penanda bahwa tujuan sudah semakin dekat.
Setibanya di lokasi, air terjun setinggi sekitar lima meter mengalir di antara tebing batu yang dipenuhi lumut hijau. Di bawahnya, terbentuk kolam alami berdiameter sekitar delapan meter dengan kedalaman lebih dari satu meter.
Anak-anak bermain air, para orang tua menggelar tikar di atas bebatuan, sebagian menyiapkan kompor portabel untuk menggoreng camilan, sisanya lagi meracik lotis sembari mengawasi anak-anak yang berenang.
“Singkongnya Mas, gratis, bukan jualan ini,” kelakar seorang perempuan saat menawari singkong rebus.
Perempuan tersebut merupakan salah satu pengunjung bernama Titik, 43, yang mengaku baru pertama kali datang ke Curug Gribik. Ia mengetahui keberadaan curug tersebut setelah melihat unggahan yang viral di media sosial.
“Awalnya lihat di TikTok, ternyata dekat rumah. Saya enggak tahu kalau di sini ada curug seperti ini. Akhirnya kemarin kami janjian sama teman-teman buat datang ke sini,” kata Titik.
Rombongan Titik datang menggunakan sepeda motor sambil membawa berbagai perlengkapan untuk piknik. Ia menceritakan jika para ibu-ibu, berbagi tugas membawa kompor, minyak goreng, tepung, minuman, hingga bahan makanan yang akan dimasak bersama di lokasi.
“Jadi anak-anak berenang, ibunya piknik,” ucapnya.
Kendati demikian, Titik mengingatkan pengunjung agar tetap berhati-hati saat menuju curug. Menurutnya, jalur menurun dengan permukaan tanah dan bebatuan cukup licin, sehingga beberapa pengunjung sempat terpeleset.
“Tadi ada yang kepleset, bukan cuma anak-anak, emaknya juga. Jadi kalau ke sini sebaiknya pakai sandal atau sepatu yang nyaman. Terus kalau sudah sore, sekitar jam 17.00 WIB, lebih baik mulai pulang,” pesannya.
Seorang pengunjung lain, Yuni, mengaku menyempatkan diri untuk datang bersama dua rekannya setelah melihat banyak unggahan tentang Curug Gribik di media sosial.
“Mumpung libur kerja, jadi main tipis-tipis. Jaraknya juga dekat, cuma sekitar 20 menit. Buat refreshing sebentar setelah penat kerja, cuci mata,” kata Yuni yang merupakan perantau asal Jawa Timur.
Popularitas Curug Gribik memang lahir dari media sosial. Namun, setelah tiba di lokasi, yang membuat orang ingin kembali bukan sekadar konten viral, melainkan kesederhanaan sebuah ruang hijau yang masih alami, tempat anak-anak bebas bermain air, keluarga bercengkerama tanpa terburu waktu, dan siapa pun bisa sejenak melupakan hiruk-pikuk kota hanya dengan menuruni jalan setapak.

Leave a Reply