Lombokforum.com, SRAGEN — Masalah pengelolaan sampah di Kabupaten Sragen memerlukan perhatian serius dari seluruh lapisan masyarakat, mengingat produksi sampah per hari mencapai 100 ton yang masuk ke Tempat Pengolahan Akhir (TPA) Tanggan, Kecamatan Gesi, Sragen.
Beban masalah sampah diperparah dengan belum maksimalnya fungsi Tempat Pengolahan Sampah Reuse-Reduce-Recycle (TPS3R) di tingkat desa. Dari 13 unit TPS3R yang dibangun Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sragen, ternyata hanya delapan unit yang aktif beroperasi.
Kepala DLH Sragen, Albert Pramono Soesanto, saat ditemui Espos belum lama ini, mengungkapkan dari total 13 unit TPS3R yang tersebar di wilayah Kabupaten Sragen, saat ini hanya 8 unit yang terpantau aktif beroperasi. Sedangkan sebanyak 5 unit lainnya dalam kondisi mangkrak atau tidak berjalan sesuai fungsinya.
“Kondisi di lapangan menunjukkan beban TPA Sragen sudah sangat berat. Rata-rata 100 ton sampah masuk setiap hari. Padahal, jika TPS3R berfungsi optimal, beban sampah ke TPA bisa dikurangi secara signifikan sejak dari sumbernya,” ujar Albert.
Dia menerangkan salah satu penyebab tidak berjalannya sejumlah TPS3R karena kurangnya koordinasi pengelola dana dan manajemen sumber daya manusia (SDM) di tingkat lokal. Selain masalah teknis, Albert menyampaikan kendala biaya operasional menjadi faktor krusial. Albert menyebutkan iuran sampah dari masyarakat saat ini rata-rata hanya Rp10.000-Rp15.000 per rumah, sementara hitungan ideal untuk menjalankan pengolahan sampah mandiri Rp25.000.
“Karena iuran rendah, banyak pengelola akhirnya hanya mengambil langkah praktis: kumpul, angkut, dan buang langsung ke TPA tanpa ada proses pemilahan atau pengolahan di TPS3R,” jelas dia.
60% Sampah Organik
Albert menjelaskan dari produksi sampah 100 ton per hari tersebut, 60% di antaranya merupakan sampah organik. Albert mengatakan jika masyarakat memiliki kesadaran untuk memilah dan mengolah sampah organik di rumah atau di tingkat desa, maka beban sampah yang dikirim ke TPA bisa berkurang hingga lebih dari separuhnya.
“Saat ini kontribusi TPS3R dan Bank Sampah terhadap pengurangan sampah ke TPA baru mencapai kisaran 10%-15%. Jika sampah organik 60% tersebut bisa tertahan tidak sampai ke TPA, maka persoalan lahan TPA bisa teratasi,” jelasnya.
Dia menerangkan TPA di Sragen memang menghadapi tantangan perluasan lahan karena faktor geografis yang berbatasan langsung dengan sungai. Sebagai solusi jangka panjang, kata dia, DLH Sragen mendorong adanya gerakan masif pemilahan sampah dari rumah tangga.
“Kami butuh sinergi. Bukan sekadar menyediakan armada angkut, tapi bagaimana mengubah perilaku masyarakat untuk mulai memilah sampah. Jika sampah organik selesai di tingkat bawah, beban lingkungan kita akan jauh lebih ringan,” harap dia.

Leave a Reply