BRT Trans Jateng Gelangmanggung Gandeng Sopir Lokal, Ada 14 Bus

BRT Trans Jateng Gelangmanggung Gandeng Sopir Lokal, Ada 14 Bus
BRT Trans Jateng Solo-Wonogiri di halte terminal tipe C Wonogiri, Rabu (13/3/2024). (Daerah/Muhammad Diky Praditia)

Lombokforum.com, SEMARANG — Pengemudi lokal akan menjadi sopir Bus Rapid Transit (BRT) Trans Jateng koridor Gelangmanggung yang melayani Kota Magelang, Kabupaten Magelang, dan Kabupaten Temanggung. Koridor baru tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada 2027 dengan 14 bus.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Jawa Tengah, Arief Djatmiko, mengatakan pengusaha angkutan lokal akan digandeng untuk memenuhi kebutuhan sopir BRT Trans Jateng koridor Gelangmanggung.

“Polanya nanti scraping. Jadi di sana ada berapa angkutan trayek, kemudian pengusaha-pengusaha, kita rangkul. Paling tidak ya sopir-sopirnya akan merupakan tenaga kerja yang awalnya ada dan bersedia ikut,” kata Djatmiko di kompleks Gubernur Jateng, Selasa (11/8/2026).

Meski jumlah bus yang disiapkan mencapai 14 unit, Djatmiko belum dapat memastikan jumlah titik pemberhentian atau selter BRT Trans Jateng koridor Gelangmanggung.

Menurut dia, persiapan operasional koridor tersebut masih terus dimatangkan untuk target pembukaan layanan pada 2027.

“Tetapi saya yakin banyak nanti pemberhentiannya. Karena kami juga minta agar titik-titik halte, terminal itu, menjadi titik pertemuan antar moda transportasi,” terangnya.

Djatmiko menjelaskan layanan BRT Trans Jateng untuk koridor Gelangmanggung akan bersifat subregional. Sementara itu, perjalanan dari halte atau terminal menuju wilayah sekitar akan dilayani angkutan kota maupun angkutan perdesaan.

Angkutan Lokal Disiapkan Jadi Feeder

Djatmiko mengatakan integrasi tersebut diharapkan dapat menghidupkan kembali angkutan kota dan angkutan perdesaan yang mulai mengalami penurunan penumpang.

“Jadi kami ingin terintegrasi. Di mana angkutan kota atau perdesaan, fungsinya seperti feeder. Tujuannya, menghidupkan kembali angkutan kota atau pedesaan yang selama ini memang agak mulai surut,” jelasnya.

Terpisah, Kepala Balai Trans Jawa Tengah, Agung Pramono, berharap integrasi antarkoridor dapat memperluas jangkauan layanan dan memudahkan mobilitas masyarakat antardaerah.

Menurut dia, keberadaan koridor baru juga diharapkan mendorong masyarakat beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum.

“Jadi tentunya nanti berkembang koridor baru ini. Diharapkan ada perpindahan dari sepeda motor maupun mobil ke angkutan BRT Trans Jateng. Paling tidak, bisa mengurangi angka kecelakaan, kemacetan, polusi,” kata Agung kepada Espos, Jumat (12/6/2026).

Saat ini, layanan Trans Jateng telah beroperasi pada tujuh koridor dengan total 115 armada bus. Tujuh koridor tersebut tersebar di empat wilayah pengembangan (WP), yakni Kedungsepur, Solo Raya, Banyumas Raya, serta Purworejo-Magelang.

Selain itu, Pemprov Jawa Tengah menerapkan tarif khusus bagi pelajar, mahasiswa, buruh, veteran, dan lansia. Tarif tersebut diturunkan dari Rp2.000 menjadi Rp1.000 sesuai Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 100.3.3.1/124 tertanggal 30 April 2025 tentang Tarif Angkutan Aglomerasi Perkotaan Trans Jateng.

Leave a Reply