Lombokforum.com, SOLO-Persoalan anemia yang masih membayangi remaja putri di Kota Solo mendorong Dr. Ajeng Novita Sari, S.SiT., M.Kes., untuk mengambil langkah konkret. Dosen Program Studi D3 Teknologi Bank Darah Politeknik Akbara Solo ini berhasil mengembangkan sebuah model promosi kesehatan inovatif yang diberi nama EDULITA, singkatan dari Edukasi Literasi Anemia Remaja. Inovasi ini diusung sebagai pendekatan baru yang lebih mendalam untuk mencegah sekaligus mengelola anemia pada generasi muda, melengkapi cara-cara penyuluhan yang bersifat konvensional.
Lahirnya model EDULITA bukanlah proses yang instan, melainkan buah dari penelitian intensif selama 2 tahun 7 bulan yang melibatkan ratusan siswi kelas VII tingkat SMP negeri di Kota Solo. Melalui riset disertasinya, Dr. Ajeng menemukan sebuah realitas penting bahwa perilaku sehat remaja tidak terbentuk secara otomatis hanya dengan memberikan asupan informasi. Pemahaman yang sekadar bersifat teoritis harus dibarengi dengan mekanisme yang lebih kompleks, yang mengakar mulai dari kemampuan dasar individu hingga kuatnya dukungan lingkungan di sekitar remaja tersebut.
Dalam paparannya, dosen Prodi D3 Teknologi Bank Darah Politeknik Akbara ini menjelaskan bahwa pembentukan perilaku ini ditopang oleh tiga level utama yang saling berkaitan erat. Pada level pertama, yakni level individu, remaja dituntut untuk tidak hanya sekadar tahu, tetapi juga memiliki keterampilan literasi kesehatan yang memadai agar dapat mengubah informasi menjadi tindakan nyata. Kemampuan ini didorong oleh keyakinan pada kemampuan diri (efikasi diri) dan optimisme akan hasil yang positif. Namun, upaya individu ini tidak akan berdiri tegak tanpa fondasi level interpersonal.
Di sinilah keluarga, tenaga kesehatan, dan sahabat berperan sangat kuat. Menariknya, kehadiran teman sebaya justru menjadi agen perubahan yang sangat efektif dalam memotivasi satu sama lain. Melengkapi kedua aspek tersebut, level komunitas hadir sebagai kekuatan pemungkin paling besar yang mampu menggerakkan perubahan perilaku secara massal. Pengorganisasian yang baik di sekolah melalui Unit Kesehatan Sekolah (UKS), Palang Merah Remaja (PMR), serta kehadiran posyandu remaja memegang peranan krusial sebagai pendorong utama perubahan ini.
Lebih jauh lagi, dampak dari pengelolaan anemia yang baik ternyata tidak berhenti pada perbaikan kesehatan fisik semata. Temuan riset menunjukkan adanya korelasi yang signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan subjektif para remaja, yang mencakup membaiknya kondisi psikologis, sosial, spiritual, hingga berujung pada meningkatnya produktivitas belajar mereka. Temuan strategis ini pada gilirannya memberikan kontribusi nyata dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), utamanya pada penciptaan kesehatan dan kesejahteraan (SDG 3), jaminan pendidikan yang berkualitas (SDG 4), serta terwujudnya kesetaraan gender (SDG 5).
Agar inovasi EDULITA dapat memberikan manfaat yang luas dan berkesinambungan, Dr. Ajeng menyerukan perlunya kolaborasi strategis dari berbagai pemangku kepentingan. Dinas Kesehatan diharapkan mampu mengadopsi dan mengintegrasikan model berbasis sekolah dan komunitas ini ke dalam prosedur operasional standar pencegahan anemia. Sementara itu, Puskesmas didorong untuk secara rutin memadukan distribusi Tablet Tambah Darah (TTD) dengan edukasi gizi dan pemeriksaan hemoglobin.
Di ranah pendidikan, sekolah memiliki tugas penting untuk menghidupkan kembali peran UKS dan PMR agar menjadi pusat promosi kesehatan yang proaktif, bukan lagi sekadar urusan administratif. Rangkaian upaya ini tentu harus berkesinambungan dengan suasana di rumah, di mana keluarga memegang peran krusial dalam menyajikan nutrisi harian yang kaya zat besi. Pada akhirnya, para remaja itu sendiri didorong untuk membudayakan kebiasaan positif saling mengingatkan agar rutin mengonsumsi suplemen penambah darah.
Pencapaian Dr. Ajeng Novita Sari dalam merumuskan Model EDULITA ini menjadi salah satu tonggak penting dalam karier akademisnya. Perempuan yang sebelumnya menamatkan D4 Kebidanan di Universitas Ngudi Waluyo dan S2 Ilmu Kedokteran Keluarga di UNS ini sukses menyelesaikan pendidikan doktoralnya pada Program Doktor Penyuluhan Pembangunan/Pemberdayaan Masyarakat (Bidang Ilmu Promosi Kesehatan) Sekolah Pascasarjana Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo.
Disertasinya disusun di bawah bimbingan para promotor ahli, yakni Prof. Dr. Endang Sutisna Sulaeman, dr., M.Kes., FISPH, FISCM; Prof. Dr. Adi Prayitno, drg., M.Kes., Sp.PMMf., Subsp. KNp.; serta Dr. Ir. Emi Widiyanti, S.P., M.Si. Melalui Model EDULITA, ia berharap para pemangku kebijakan memiliki rujukan intervensi yang komprehensif, efektif, dan berkelanjutan demi melindungi generasi penerus bangsa. (NA)

Leave a Reply