Lombokforum.com, SOLO – Yayasan Anand Ashram menggelar simposium budaya untuk menghadapi disrupsi perkembangan artificial intelligence (AI) yang pesat, krisis kesehatan mental, dan ketidakstabilan geopolitik yang kian eskalatif.
Simposium budaya komprehensif itu berlangsung di Bale Pengangger, kompleks Taman Balekambang, Kecamatan Banjarsari, Solo, Selasa (1/9/2026) dengan tajuk Jejak Solo untuk Dunia: Membangkitkan Kearifan Nusantara untuk Manusia Modern.
Simposium tersebut merupakan puncak perayaan Hari Bhakti Ibu Pertiwi ke-22 yang dicanangkan Menteri Pertahanan (2004–2009) Juwono Sudarsono setelah acara Simposium Kebangsaan Bhakti Bagi Ibu Pertiwi di Lemhanas, Jakarta, 1 September 2005 lalu.
Simposium budaya tersebut dirancang secara khusus bukan sekadar forum akademik serah, melainkan sebuah ruang refleksi dan dialogis. Tujuannya untuk membahas dan merumuskan kembali implementasi nilai-nilai lulur leluhur, seperti gotong royong, tepa selira, eling lan waspada, serta memayu hayuning bawana sebagai kerangka ketahanan mental dan kepedulian sosial bagi masyarakat urban.
Hadir dalam simposium Wali Kota Solo Respati Ardi, penerima Lifetime Achievement World Peace Award 2023 KGPH Adp Panembahan Dipokusumo. Simposium menghadirkan beberapa tokoh seperti Director Hapsari PRCC & Past District Governor Rotary 3420 RAy Febri Hapsari Dipokusumo.
Kemudian Tokoh Inspiratif Kota Solo 2026 dan Peraih Global Business & Peace Award 2018 Sumartono Hadinoto, Psikolog sekaligus dosen Universitas Sebelas Maret (UNS) Rin Widya Agustin, Director Altia Group Consulting & dosen Universitas Esa Unggul Arbania Fitriani, dan Ketua Asosiasi Artificial Intelligence Indonesia Dian Martin sebagai moderator.
Dipokusumo menjelaskan kearifan lokal yang berkembang di Kota Solo, khususnya yang berkaitan dengan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat (Keraton Solo) dan sejarah kerajaan-kerajaan Nusantara, menyimpan nilai yang dapat dikembangkan untuk konteks global.
Sementara itu, Febri Hapsari Dipokusumo menyoroti konsep harmoni global di mana Jawa khususnya Solo sebenarnya memiliki banyak konsep budaya yang tetap relevan hingga hari ini. Dengan kesadaran penuh, setiap orang bisa introspeksi diri dan merasakan energi besar.
Perbedaan maupun keragaman bisa menjadi harmoni di tengah kondisi yang fluktuatif baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan. Dengan kesadaran penuh bisa mendewasakan manusia untuk bersikap.
Ketua Panitia sekaligus Koordinator Anand Krishna Center Joglosemar, Iwan Susanto, menjelaskan simposium budaya tersebut sekaligus menjadi tonggak penting untuk menggaungkan kembali relevansi pemikiran Anand Krishna yang merupakan tokoh humanis, budayawan, dan penulis lebih dari 200 buku.
Anand Krishna konsisten menggali kebijaksanaan luhur nusantara selama lima dekade, seperti ajaran Ronggowarsito, Serat Wedhatama, Kitab Nitisastra, dan lain-lain ke dalam praktik universal, yakni Inner Peace (Kedamaian Diri), Communal Love (Kepedulian Bersama), dan Global Harmony (Harmoni Semesta) dalam bingkai visi besar One Earth (Satu Bumi), One Sky (Satu Langit), One Humankind (Satu Umat Manusia) sebagai kontribusi nyata Indonesia kepada dunia.
Anand Krishna adalah putra Solo yang lahir, 1 September 1956 dan meninggal di Bogor, 6 Februari 2025. Iwan Susanto menjelaskan simposium tersebut menegaskan bahwa kearifan lokal yang hidup di nusantara, terutama Solo, memiliki daya jangkau universal.
“Di tengah disrupsi teknologi, pertanyaan fundamentalnya bukan sekadar bagaimana mengoperasikan Al, melainkan bagaimana membangun manusia berkarakter dan berkesadaran. Untuk menjembatani gagasan teoretis ke dalam praktik, dalam simposium budaya ini, para peserta akan diajak mencicipi salah satu teknik Meditasi NSE rancangan Bapak Anand Krishna,” ujar dia.
Ketua Yayasan Misi Anand Krishna, Prashant Krishna Gangtani, mengatakan pemilihan tema Jejak Solo untuk Dunia memiliki hubungan erat dengan perjalanan hidup Anand Krishna yang lahir di Solo pada 1 September 1956.
“Jadi kami mau memberikan warisan kepada generasi muda berikutnya bahwa apa yang telah ditinggalkan Anand Krishna sebagai visioner. Jadi dari buku-bukunya, dari latihan meditasinya, dari berbagai hal mengenai inner peace atau communal love atau global harmony. Jadi itu yang kami mau membawa ke seluruh dunia,” ujar dia.
Leave a Reply