Lombokforum.com, KARANGANYAR — Warga Perumahan Chrisan Regency, Desa Ngringo, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar, mengeluhkan kualitas air bersih dari Perusahaan Umum Daerah Air Minum (PUDAM) Tirta Lawu yang keruh, berwarna kuning hingga cokelat kehitaman, serta berbau amis.
Kondisi tersebut telah berlangsung cukup lama dan kembali terjadi meski warga mengaku sudah melaporkannya kepada pihak PUDAM.
Salah seorang warga, Said Masykuri, mengatakan air yang mengalir ke rumah warga tidak selalu dalam kondisi bersih. Pada waktu-waktu tertentu, air berubah warna menjadi cokelat hingga hitam sehingga menimbulkan kekhawatiran bagi warga yang menggunakannya untuk kebutuhan sehari-hari.
“Wis suwe, warnanya cokelat hitam, tetapi tidak selalu, kadang-kadang,” ungkapnya saat menceritakan kondisi air di rumahnya kepada Espos, Senin (12/10/2026).
Menurut dia, persoalan tersebut sebenarnya sudah pernah dilaporkan dan mendapat penanganan. Namun, kualitas air terkadang masih kembali keruh. Warga terpaksa tetap menggunakannya karena air PUDAM menjadi salah satu sumber air yang tersedia di rumah tersebut.
Untuk menyiasati kondisi tersebut, sebagian warga memasang saringan air. Ada pula yang lebih sering menguras bak mandi agar endapan kotoran tidak menumpuk.
Said mengatakan keluhan mengenai air yang diduga kotor tersebut menimbulkan pertanyaan di kalangan warga mengenai penyebab gangguan dan efektivitas penanganan yang selama ini dilakukan. Warga juga mempertanyakan apakah persoalan tersebut hanya terjadi di bagian timur perumahan atau turut dialami pelanggan di wilayah lainnya.
Sebagian warga menduga gangguan berkaitan dengan jaringan distribusi air yang memasok kawasan tersebut. Namun, sumber gangguan dan penyebab perubahan warna maupun bau air belum dapat dipastikan.
Warga berharap pengelola layanan air bersih tidak hanya melakukan penanganan sementara, tetapi juga menelusuri penyebab air keruh agar persoalan serupa tidak terus berulang.
Keluhan serupa disampaikan warga lainnya, Kesi yang menyebut kondisi air PUDAM di perumahan tersebut semakin parah selama sekitar satu bulan terakhir.
“Kotor banget. Sudah lapor, jawabannya sama saja, di-follow up, disuruh menguras tandon,” ujarnya.
Kesi mengungkapkan air yang mengalir ke rumahnya berwarna kuning dan berbau amis. Dia juga mengaku mengalami gatal-gatal setelah menggunakan air tersebut untuk mandi selama sekitar sepekan.
Menurut dia, upaya menyaring air dan membersihkan penampungan membutuhkan tenaga serta waktu ekstra. Bahkan, saringan air harus diganti berkali-kali dalam sehari karena cepat kotor.
“Sehari bisa tujuh kali ganti saringan. Capek,” keluhnya.
Untuk kebutuhan memasak, Kesi mengaku telah lama memilih membeli air isi ulang. Sementara itu, kebutuhan air minum dipenuhi dengan air minum dalam kemasan galon. Warga berharap ada pemeriksaan kualitas air dan evaluasi jaringan distribusi sehingga air yang sampai ke rumah pelanggan kembali memenuhi standar kualitas air bersih.

Leave a Reply