Lombokforum.com, PURWOKERTO—Pascasarjana Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto mengangkat pentingnya dialog spiritual lintas agama untuk memperkuat literasi multikultural dan membangun kehidupan masyarakat yang inklusif.
Gagasan tersebut dibahas dalam International Public Lecture Series bertema “Multiculturalism and Literacy in the Asian Community”, Sabtu (10/10/2026). Forum akademik internasional ini menghadirkan Dr. Greg Soetomo, Koordinator Dialog dengan Islam pada Jesuit Conference of Asia Pacific, Manila, sebagai pemateri.
Dr. Greg Soetomo menyampaikan materi bertajuk “The Role of Spiritual Conversation in Multicultural-Faith Pedagogy and Education” yang membahas peran percakapan spiritual dalam pendidikan multikultural dan penguatan hubungan antarumat beragama.
Melalui forum ini, Pascasarjana UIN Saizu mendorong pengembangan pendidikan yang tidak hanya mengenalkan keragaman agama dan budaya, tetapi juga menumbuhkan kemampuan berdialog, saling memahami, dan bekerja sama di tengah perbedaan.
Dalam paparannya, Dr. Greg Soetomo menekankan bahwa dialog lintas agama tidak cukup berhenti pada pertukaran pengetahuan, argumentasi intelektual, atau pemahaman terhadap ajaran agama lain. Dialog juga perlu membuka ruang bagi pengalaman spiritual, refleksi batin, serta kesediaan untuk mendengarkan dan memahami pengalaman hidup orang lain.
Pendekatan tersebut memungkinkan setiap peserta membangun hubungan yang lebih mendalam tanpa harus menghilangkan perbedaan keyakinan dan tradisi keagamaan. Dengan demikian, dialog lintas agama bukan bertujuan menyeragamkan pandangan teologis, melainkan memperkuat pemahaman dan menemukan ruang kerja sama untuk kepentingan bersama.
Salah satu konsep yang diperkenalkan dalam materi tersebut ialah Discernment in Common, yaitu proses membangun pertimbangan dan keputusan bersama melalui refleksi, keterbukaan, serta pencarian kebaikan bersama.
Konsep yang berakar pada tradisi spiritual Ignasian ini dipertemukan dengan perspektif dalam tradisi Islam, antara lain istifta’ qalbu, yang berkaitan dengan upaya meminta pertimbangan hati ketika menghadapi keraguan.
Pertemuan kedua perspektif tersebut memperlihatkan peluang pengembangan dialog spiritual yang produktif di antara pemeluk agama. Setiap pihak dapat menggali nilai-nilai yang mendorong kepedulian terhadap sesama sekaligus tetap menghormati identitas dan keyakinan masing-masing.
Penghormatan terhadap Martabat Manusia
Dalam kehidupan masyarakat yang majemuk, dialog semacam ini relevan untuk memperkuat keadilan, penghormatan terhadap martabat manusia, kepedulian sosial, perdamaian, dan tanggung jawab bersama. Perbedaan agama tidak semestinya menghalangi kolaborasi dalam menghadapi berbagai persoalan kemanusiaan.
Dr. Greg Soetomo juga menyoroti pentingnya pendidikan dalam membangun literasi multikultural. Menurut perspektif yang dibahas dalam materinya, literasi multikultural tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengenali perbedaan budaya dan agama, tetapi juga mencakup kecakapan berkomunikasi secara terbuka, menghargai perspektif berbeda, dan menyikapi persoalan sosial secara reflektif.
Perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mengembangkan kemampuan tersebut. Kampus dapat menjadi ruang perjumpaan akademik yang mendorong mahasiswa berdiskusi secara kritis, membangun pemahaman lintas budaya, serta mengembangkan sikap bertanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat.
Pendidikan multikultural juga perlu diterjemahkan ke dalam tindakan nyata. Kemampuan mendengarkan tanpa prasangka, menghormati martabat orang lain, melakukan refleksi diri, dan bekerja sama dalam kegiatan kemanusiaan menjadi bagian penting dari pendidikan yang berorientasi pada perdamaian.
Sebagai contoh praktik dialog lintas agama, Dr. Greg Soetomo mengangkat program “Walking with Gus Dur: An Interfaith Conversation” yang berlangsung di Jakarta pada 10–12 Mei 2025. Program tersebut mempertemukan peserta Muslim dan Katolik dalam rangkaian dialog, refleksi spiritual, dan percakapan kelompok lintas iman.
Salah satu metode yang digunakan ialah percakapan tiga putaran. Melalui metode ini, peserta memperoleh kesempatan untuk menyampaikan refleksi pribadi, mendengarkan tanggapan peserta lain, dan membangun pemahaman bersama.
Proses tersebut mendorong peserta untuk tidak sekadar mempertahankan pandangan masing-masing, tetapi juga belajar memahami pengalaman dan perspektif orang lain. Pengalaman dialog ini menunjukkan potensi percakapan lintas agama dalam membangun kepercayaan, memperluas wawasan, dan memperkuat penghargaan terhadap keberagaman.
Pemikiran dan keteladanan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur turut menjadi inspirasi dalam membangun hubungan antarumat beragama, terutama melalui nilai pluralisme, keadilan sosial, solidaritas, dan penghormatan terhadap kemanusiaan.
Mengembangkan Ruang Dialog Akademik
Wakil Direktur Pascasarjana UIN Saizu Purwokerto, Dr. Attabik menyampaikan bahwa penyelenggaraan International Public Lecture Series merupakan bagian dari upaya mengembangkan ruang dialog akademik yang menghubungkan perspektif keislaman dengan wacana multikulturalisme global.
Tema “Multiculturalism and Literacy in the Asian Community” dinilai relevan dengan karakter masyarakat Asia yang memiliki keragaman tradisi, bahasa, budaya, dan agama. Di tengah kemajemukan tersebut, literasi multikultural diperlukan untuk memperkuat kohesi sosial dan membangun kehidupan bersama yang damai.
Bagi Pascasarjana UIN Saizu, kegiatan ini juga menjadi sarana memperkuat internasionalisasi akademik melalui pertukaran gagasan, pengembangan jejaring intelektual, dan pengayaan perspektif pendidikan Islam yang responsif terhadap dinamika masyarakat global.
Penyelenggaraan kuliah umum internasional ini sekaligus menegaskan peran perguruan tinggi sebagai ruang pertukaran pengetahuan dan pengembangan kesadaran akan tanggung jawab bersama dalam masyarakat yang majemuk.
Melalui dialog yang terbuka dan reflektif, keberagaman dapat menjadi sumber pembelajaran untuk memperkuat solidaritas, membangun kepercayaan, dan mengembangkan kerja sama lintas agama.
Pada akhirnya, penguatan literasi multikultural membutuhkan lebih dari sekadar pengetahuan mengenai perbedaan. Upaya tersebut juga menuntut kesediaan untuk mendengarkan, melakukan refleksi, memahami pengalaman orang lain, dan menerapkan nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari.
Semangat inilah yang terus relevan dalam pengembangan pendidikan multikultural dan upaya membangun masyarakat Asia yang inklusif, damai, serta berkeadaban. (NA)

Leave a Reply