Bapanas: Harga Telur Ayam Mulai Pulih, Dipicu MBG dan Sekolah Masuk

Bapanas: Harga Telur Ayam Mulai Pulih, Dipicu MBG dan Sekolah Masuk
Produksi telur ayam di Kendal, Jawa Tengah, Minggu (12/7/2026). (Daerah/Adhik Kurniawan)

Lombokforum.com, JAKARTA — Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyatakan harga telur ayam ras mulai berangsur pulih setelah sempat anjlok akibat melemahnya permintaan dalam beberapa pekan terakhir.

Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, mengatakan pemulihan harga dipicu meningkatnya penyerapan telur oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG), berakhirnya bulan Suro, serta dimulainya kembali kegiatan belajar mengajar.

“Harga telur naik, alhamdulillah. Kemarin harga telur di tingkat kandang sempat turun hingga Rp15.000 per kilogram,” kata Ketut saat mengunjungi Pasar Tebet Timur, Jakarta, Senin (20/7/2026), dilansir Antara.

Menurut Ketut, meningkatnya aktivitas sekolah dan kembali beroperasinya SPPG membuat permintaan telur berangsur pulih sehingga harga ikut terkerek naik.

“Nah, ini sudah tepat sekali dengan mulainya SPPG, bulan Suro sudah kita lewati, anak-anak sekolah sudah mulai masuk, sehingga harga kembali bergerak naik,” ujarnya.

Ia mengatakan harga telur di tingkat peternak saat ini telah naik ke kisaran Rp22.000-Rp23.000 per kilogram. Meski demikian, angka tersebut masih berada di bawah harga yang dinilai ideal, yakni sekitar Rp24.000-Rp25.000 per kilogram.

Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dikelola Bank Indonesia, harga rata-rata telur ayam ras di tingkat produsen pada 20 Juli 2026 tercatat sebesar Rp25.750 per kilogram.

Ketut menilai tren kenaikan harga perlu dijaga agar tetap berada pada tingkat yang wajar sehingga peternak memperoleh keuntungan tanpa membebani konsumen.

“Jangan sampai peternak kita harganya terlalu jatuh. Kalau begitu mereka tidak mau berproduksi. Masa kita harus impor lagi?” katanya.

Ia mengakui pemulihan harga telur berpotensi mendorong inflasi pangan. Namun, menurutnya, kondisi tersebut masih berada dalam batas yang diharapkan pemerintah selama harga tetap bergerak di sekitar harga acuan.

“Pemerintah menjaga ritmenya. Jangan terlalu tinggi, jangan terlalu rendah. Saat harga rendah kita intervensi, saat harga tinggi juga kita intervensi. Selama masih berada di harga acuan, berarti kondisinya masih baik,” ujarnya.

Data PIHPS Nasional menunjukkan harga rata-rata telur ayam ras di pasar tradisional sebesar Rp29.250 per kilogram pada 6 Juli 2026, kemudian turun menjadi Rp29.000 per kilogram pada 14 Juli, sebelum kembali naik menjadi Rp31.300 per kilogram pada 20 Juli 2026.

Leave a Reply