Bank Indonesia Solo Waspadai Dampak El Nino ke Inflasi Bahan Pangan di Soloraya

Bank Indonesia Solo Waspadai Dampak El Nino ke Inflasi Bahan Pangan di Soloraya
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Solo Dwiyanto Cahyo Sumirat memberikan keterangan kepada wartawan secara virtual, Kamis (13/8/2026). (Daerah/Wahyu Prakoso)

Lombokforum.com, SOLO – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Solo mewaspadai potensi dampak negatif fenomena el nino terhadap inflasi kelompok bahan pangan yang harganya mudah bergejolak di Soloraya.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Solo Dwiyanto Cahyo Sumirat menjelaskan telah melakukan Focus Group Discussion (FGD) bersama para pemangku kepentingan untuk membahas dampak el nino di Soloraya.

“Sebenarnya El Nino ini sifatnya tidak terlalu panjang panasnya. Alhamdulillah itu sudah juga dicermati oleh Dinas Pertanian, oleh klaster-klaster pangan yang kami undang. Mereka sudah melakukan langkah-langkah apa yang perlu dilakukan untuk mengatasi jika terjadi el nino yang menyebabkan pasokan air terbatas,” kata dia kepada wartawan secara virtual pada acara Media Briefing Se-Jawa Tengah, Kamis (13/8/2026).

Berdasarkan Peta Peringatan Dini Kekeringan Meteorologi Dasarian ke-3 Juli 2026, wilayah Soloraya berada pada tiga tingkatan peringatan kekeringan, yakni Waspada, Siaga, dan Awas. Adapun Solo dan Karanganyar masuk waspada. Kategori siaga, yakni Boyolali, Klaten, Sragen, Sukoharjo. Sedangkan Wonogiri masuk kategori awas.

Curah Hujan Sangat Rendah

Kondisi peringatan kekeringan pada Dasarian ke-3 Juli 2026 diperkirakan masih berlanjut pada Agustus 2026 sejalan dengan prediksi curah hujan BMKG yang menunjukkan hampir seluruh wilayah Jawa Tengah termasuk Soloraya akan menerima curah hujan sangat rendah, yakni berkisar 0-20 mm per bulan.

Menurut dia, potensi kekeringan di Soloraya masih tinggi sehingga diperlukan antisipasi melalui pengelolaan sumber daya air dan mitigasi pada sektor pertanian. “Potensi dampak el nino terhadap produksi pangan berupa potensi gagal panen dan penurunan produktivitas, peningkatan biaya produksi karena petani harus mengambil atau membeli air, serta beberapa lahan tidak ditanami,” ungkap dia.

Dia mengatakan beberapa langkah konkret yang dilakukan dengan membangun embung dan sumur di beberapa lokasi sebagai sumber air alternatif, sosialisasi pembuatan tampungan air di lahan masing-masing, bantuan pompa air, penyesuaian musim tanam, melaksanakan pasar murah, pendampingan petani.

Kepala Bank Indonesia Jateng, Mohamad Noor Nugroho, menambahkan tanaman budi daya pangan yang paling terdampak el nino di Jateng adalah padi. Para petani sudah beralih menanam jenis tanaman lain pada musim kemarau.

Leave a Reply